Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, Agustus 10, 2009

KELUARGA KRISTEN BAHAGIA


Prinsip hidup dalam keluarga Kristen berbeda jauh dengan prinsip dalam keluarga-keluarga lainnya di luar kekristenan. Sebab bagi orang Kristen, pernikahan adalah:
Pertama, satu kali untuk seumur hidup (Maleakhi 2:16). Pernikahan dibuat pertama kali atas ide Allah (Kejadian 2:18). Pernikahan ini bersifat monogami, hanya boleh memiliki satu suami atau satu isteri.
Kedua, dua menjadi satu (Matius 19:5-6). Pernikahan menjadikan antara suami dan isteri menjadi satu di hadapan Allah.
Ketiga, bertanggung jawab. Tanggung jawab suami terhadap isterinya adalah mencari nafkah dan mendidik keluarganya untuk takut akan Allah. Suami juga harus mengasihi isteri dan anak-anaknya. Tanggung jawab isteri adalah tunduk (hormat) dan mendukung suaminya. Isteri harus juga mengasihi suami dan anak-anaknya, bijaksana, suci, dapat mengatur rumah tangga dengan baik (Titus 2:4-5).
Fondasi keluarga Kristen adalah firman Tuhan yang mengajarkan kepada seluruh anggotanya untuk hidup takut akan Tuhan dan senantiasa menyertakan Tuhan hadir dalam rumah tangganya. Kasih menjadi pengikat di antara semua anggota. Komunikasi menjadi sarana untuk berjalannya hubungan yang baik dan menghindari dari segala kecurigaan atau prasangka buruk yang bisa menghancurkan rumah tangga.(Pdp. Tony Tedjo, M.Th)

Kamis, Juli 16, 2009

SEBUAH KEMESRAAN

Peristiwa seperti yang dialami oleh artis Cici Paramita dan Manohara sebenarnya tidak akan terjadi, apabila antara mereka dan pasangannya terdapat kemesraan. Memang, dua insan yang berbeda latar belakang budaya dan keluarga, di mana masing-masing memiliki pendapat yang berbeda, bisa menjadi pemicu terjadinya pertengkaran dalam keluarga.
Firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:1-13 tuliskan bahwa Kasih merupakan pengikat yang bisa menyatukan semua perbedaan dari pribadi pasangan dalam suatu keluarga. Kasih inilah yang bisa tetap menjaga kemesraan dalam keluarga. Apabila kasih antara suami dan isteri sudah menjadi hambar, maka tak heran kerapkali terjadi konflik yang disebabkan masalah sepele. Misalnya masalah odol. Suami yang biasa memencet odol dari tengah kemasan odol ke depan, selalu diprotes oleh isterinya yang biasa memencetnya sedikit demi sedikit dari ujung kemasan odol. Dari masalah sepele ini, bila tidak segera ditangani bisa berdampak serius. Bahkan, berujung pada perceraian.
Untuk tetap tercipta suatu kemesraan dalam keluarga, maka haruslah senantiasa menjaga kasih, agar tidak hambar. Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk tetap saling mengasihi antar pasangan, yaitu:
Pertama, mengingat selalu akan janji pernikahan di depan altar gereja, untuk selalu bersama sehidup semati, sampai maut memisahkan mereka berdua. Kedua, saling menghargai kelebihan dan kekurangan dari pasangannya. Sebagian besar orang mungkin bisa menghargai dalam hal kelebihannya, namun terkadang tidak mau menerima kekurangan pasangannya. Oleh karenanya kita perlu mengubah hal ini, dan mengambil sikap mau menerima keberadaan pasangan kita apa adanya. Ketiga, selalu menjaga hati kita kepada Tuhan. Dengan cara mempunyai saat teduh pribadi atau mezbah keluarga. Masing-masing harus memiliki waktu khusus untuk berdoa dan membaca firman Tuhan. Supaya memiliki rasa “takut akan Tuhan”. Keempat, hendaklah memiliki sikap hati yang benar, jauh dari kepura-puraan. Apabila pasangan kita bersalah, kita harus menegurnya dengan kasih.
Memang, membangun bahtera rumah tangga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses dan waktu yang cukup lama yang harus dilalaui oleh masing-masing pribadi, sehingga keduanya menjadi dewasa. Baik dalam segi rohani maupun dalam hal jasmani (bersikap bijaksana). Semua bisa terjadi apabila kita senantiasa menyertakan Tuhan untuk terlibat dalam semua kegiatan di keluarga kita. Supaya kasih Allah itu bisa terus mengalir, baik kepada isteri atau suami dan kepada anak-anak. (Tony Tedjo)

Rabu, Agustus 08, 2007

PERAN ORANGTUA DI TENGAH ARUS PERUBAHAN

Dunia mengalami perubahan yang begitu cepat, sehingga mau tak mau setiap orang berlomba untuk memacu diri agar tidak ketinggalan. Dampak dari perubahan dunia ini membawa kepada dua sisi. Sisi positif dan sisi negatif. Dampak positif yang ditimbulkan akibat perubahan yang terjadi di dunia saat ini adalah manusia dapat bergerak ke mana saja dengan mudah hanya tinggal memencet nomor telpon, maka orang yang berada di negara yang jauh sekalipun dapat dijangkau. Kemudian, dapat mengakses informasi dengan cepat dan mudah, hanya tinggal mengklik di depan computer, maka data-data yang diperlukan sudah bisa didapatkan. Berita-berita mengenai perkembangan yang terjadi di benua lain pun dengan mudah didapatkan. Sedangkan dampak negatif dari perubahan dunia yang serba cepat ini adalah moralitas manusia menjadi makin rusak. Dengan modal Rp 3000 saja seorang anak kecil sudah bisa menonton vcd porno atau mengakses situs porno di internet. Kejahatan makin canggih, karena meniru adegan di film-film laga. Dan yang paling mengerikan adalah manusia menjadi kurang atau bahkan tidak lagi menghargai akan keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini.
Dalam upaya mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan dari perubahan dunia ini, maka peranan keluarga tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab keluarga memegang peranan yang sangat penting terhadap maju mundurnya suatu bangsa. Tentunya dalam keluarga peranan yang sangat menentukan adalah peran orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Bila orangtua salah dalam mendidik anak atau membiarkan anak berjalan sendiri tanpa bimbingan, bisa mengakibatkan anak terbawa oleh arus dunia ke arah negatif. Jadi tak dapat diremehkan, karena kesempatan orangtua dalam mendidik anak-anaknya adalah ketika mereka masih bersama-sama dengan kedua orangtuanya. Setelah mereka pisah dengan orangtua, anak-anak bisa berbuat sekehendak hati mereka di luar pengetahuan orangtuanya.
Ada tiga hal yang harus diperhatikan orangtua dalam mengantisipasi anak-anaknya agar tidak terseret ke arah negatif, yaitu:

1. Orangtua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bila seorang ayah berkata kepada anak laki-lakinya jangan merokok, tentunya dia sendiri harus memegang kata-katanya untuk tidak merokok. Jika ibu berkata jangan pergi ke diskotik atau night club, tentunya dia sendiri harus memberi contoh terlebih dahulu. Sehingga anak-anak dapat meneladani sikap kedua orangtuanya. Teladan yang baik adalah orangtua harus mengarahkan anak-anaknya untuk mengutamakan Tuhan dalam hidup mereka. Membawa anak-anak untuk hidup takut akan Tuhan dan mengandalkan-Nya. Mengajak anak-anaknya, sambil dia sendiri turut serta, pergi ke gereja untuk beribadah. Bukannya menyuruh anak pergi ke gereja tetapi orangtuanya hanya mengantar saja dan kemudian pulang.

2. Anak harus dibekali dengan firman Tuhan. Anak-anak selagi masih balita harus sudah diajarkan firman Tuhan, sehingga ketika mereka menjadi dewasa mereka sudah dibekali dengan rambu-rambu kebenaran. Orangtua mengajak anak-anaknya untuk melakukan saat teduh setiap pagi. Kebiasaan ini akan terbawa dan menjadi kebiasaan pula bagi anak-anak. Kelak mereka tidak akan lupa untuk bersaat teduh. Bila kebenaran firman Tuhan sudah ditanamkan kepada anak sejak dini, maka orangtua tak perlu kuatir terhadap anak-anaknya. Sekalipun mereka harus berpisah karena studi di luar kota. Anak akan takut apabila melanggar isi firman Tuhan.

3. Orangtua harus senantiasa mendoakan anak-anaknya. Doa sangat penting dan berpengaruh terhadap perkembangan diri anak. Doa tidak bisa dibatasi oleh waktu atau tempat. Meski anak-anak sudah meninggalkan kedua orangtuanya, namun mereka masih tetap terjangkau dengan doa. Dengan seringnya mendoakan anak-anak, maka arah hidup si anak terhindar dari arus pergaulan yang buruk. Anak-anak senantiasa dipelihara dan dijaga oleh Tuhan. Selain itu, doa orangtua membuat apa saja yang dikerjakan si anak berhasil. Karena orangtua adalah wakil Allah di dalam dunia ini.

Semoga ketiga hal ini dapat mengantisipasi anak-anak kita dari arus perubahan dunia yang cenderung menyeret ke arah negatif. Jangan pernah menganggap remeh akan hal ini. Sebab kita sudah melihat bukti, di mana peranan orangtua terhadap anak-anaknya yang terbengkalai. Mengakibatkan anak-anak mereka menjadi pecandu narkoba, pelaku seks bebas, homoseks atau lesbi, terbawa pengajaran sesat, dan sebagainya. Jadi, jangan biarkan anak-anak kita begitu saja terjebak dan terikat olehnya. Kita hanya mempunyai kesempatan satu kali. Waktu kita pun terbatas. Jadi pergunakanlah dengan baik. (Tony Tedjo --081394401799)

Selasa, Juli 31, 2007

BERKOMUNIKASI DALAM KELUARGA

Menjaga komunikasi yang baik sangatlah diperlukan untuk melangsungkan keharmonisan sebuah keluarga. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Cara ini biasa disebut dengan bahasa verbal. Namun bila cara ini mengalami kesulitan, bisa dipakai komunikasi dengan bahasa non-verbal atau bahasa isyarat. Misalnya menggelengkan kepala, mengangkat bahu, tersenyum, atau mengedipkan mata.

Ada tiga hal dalam upaya untuk menjaga hubungan komunikasi yang baik di antara sesama anggota keluarga:

1. Keterbukaan.
Dalam bukunya "Herein Is Love", Reuel Howe berkata, "Jika ada sesuatu yang sangat diperlukan oleh pengantin baru dalam memulai hidup bersama, bagaimana pun juga, itu adalah komunikasi yang terbuka di antara keduanya." Tanpa keterbukaan bisa berakibat mis-komunikasi atau kesalahpahaman.
Bila antar pasangan tidak saling terbuka, maka bisa saja menimbulkan prasangka negatif antara suami dan isteri. Misalnya: suami kedapatan oleh isterinya dengan ngobrol berduaan dengan wanita lain. Bila suami tidak menjelaskan mengenai wanita yang baru saja mengobrol dengannya, maka dapat menimbulkan kecemburuan dan kesalahmengertian. Isteri akan menyangka kalau wanita tersebut teman selingkuhan suaminya. Sebaiknya suami menjelaskan lebih dahulu kepada isterinya, sebelum ada orang lain yang menjelaskan tentang wanita tersebut. Seringkali orang ketiga yang memberikan kabar menambah-nambahi beritanya. Apalagi bila ada sentiment pribadi, tentu saja berita yang diceritakan dibesar-besarkan, sehingga membuat isteri bertambah curiga dan memvonis suaminya benar-benar selingkuh.

2. Menjadi pendengar yang baik.
Menjadi pendengar yang baik adalah orang yang respek terhadap lawan bicaranya. Dalam kamus Webster's New World Dictionary, salah satu definisi yang diberikan untuk kata respek adalah, "merasakan atau memperlihatkan hormat atau penghargaan." Dengan berdiam dan mendengarkan, berarti kita menaruh hormat dan menghargai orang yang sedang berbicara.
Seseorang menyarankan bahwa mendengarkan sungguh-sungguh dengan mulut terkatup adalah dasar ketrampilan berkomunikasi yang dibutuhkan dalam pernikahan. Mendengar efektif berarti jika seseorang sedang berbicara, anda tidak boleh memusatkan pikiran pada apa yang akan anda katakan saat ia selesai berbicara, melainkan pada apa yang ia utarakan. Menjadi pendengar yang baik dalam menjaga hubungan antara anggota keluarga sangatlah penting. Bila suami sedang berbicara seharusnya isteri memperhatikan dengan seksama dan mendengarkan seluruh isi pembicaraan itu dengan utuh, tanpa dipotong oleh aktivitas lain. Bila ucapan kita mau dihargai dan didengarkan orang lain, tentunya kita sendiri harus mau mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh orang lain kepada kita. Singkatnya “dengarkanlah perkataannya bila perkataanmu mau didengarkan olehnya.”

3. Menerima pasangan apa adanya.
Menerima pasangan kita apa adanya merupakan hal lain yang mesti diperhatikan dalam menjaga hubungan komunikasi keluarga. Tanpa adanya penerimaan antar suami dan isteri, maka salah satu pasangan akan mengalami pelecehan. Bila suami tidak mau menerima keadaan isterinya apa adanya, termasuk dalam berkata-kata. Maka tanpa disadari, setiap perkataan yang keluar dari mulut isteri akan diacuhkan, diremehkan, dan dilecehkan. Ini merupakan komunikasi yang tidak baik. Solusinya bagaimana, terimalah pasangan kita apa adanya, juga dalam berkata-kata.

Keutuhan hubungan komunikasi yang baik perlu dijaga dan dipertahankan. Dengan terjalinnya komunikasi yang baik, niscaya semua anggota keluarga akan berbahagia. (Tony Tedjo)

Minggu, Juli 29, 2007

KELUARGA YANG MERDEKA

Keluarga merupakan unit sosial pertama yang dirancang Allah. Keluarga ini pulalah yang mendapatkan perhatian penting dari Allah sejak dahulu hingga sekarang. Menurut definisi katanya, “keluarga” mempunyai pengertian satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat yang terdiri atas ibu bapak dengan anak-anaknya. Definisi ini tak menutup kemungkinan bagi keluarga yang hanya terdiri dari suami dan isteri.
Berkenaan dengan kemerdekaan, di dalam sebuah keluarga diperlukan adanya kemerdekaan. Merdeka berarti bebas, tidak terkena atau lepas dari tuntutan. Satu dengan yang lain ada kebebasan. Dalam hal ini bebas bukan berarti dapat berbuat seenak-enaknya. Bebas yang dimaksud adalah bebas yang bertanggung jawab, artinya harus sesuai dengan hak-hak dan kewajibannya dalam keluarga. Seorang ayah wajib memberi nafkah isteri dan anak-anaknya; seorang isteri wajib merawat dan memelihara anak-anaknya; serta seorang anak wajib mematuhi nasehat kedua orangtuanya. Kewajiban ini merupakan suatu tuntutan yang merdeka, artinya mau tidak mau hal ini harus dilakukan dan seharusnya dijalankan dengan sukarela dan bertanggung jawab. Tanpa adanya paksaan dan tuntutan.
Sekarang timbul masalah, apabila hal ini tidak dijalankan dengan benar. Atau apabila salah satu anggota, misalnya sang ayah merasa keberatan untuk menafkahi isteri dan anak-anaknya, maka dalam menjalankan kewajiban ini akan disertai dengan persungutan. Demikian pula tidak menutup kemungkinan terjadi anggota keluarga lainnya yang menuntut dirinya untuk terlepas dari kewajibannya. Bila ini terjadi, maka sebuah keluarga akan menjadi kacau dan berantakan.
Ada tiga hal yang seharusnya dipahami oleh setiap anggota keluarga dalam usahanya untuk mencapai sebuah keluarga yang merdeka, yaitu:
1. Adanya unsur kasih yang menjadi pengikat antar anggota keluarga (I Korintus 13:4-7). Kasih memegang peranan yang amat penting dalam kehidupan seorang Kristen, baik secara umum maupun secara khusus dalam hubungan antar-anggota keluarga. Tanpa kasih, maka kesalahpahaman-kesalahpahaman akan berakhir pada pertengkaran. Dan bila ini terjadi antara suami dan isteri dapat berujung pada perceraian. Kasih inilah yang dapat meredakan amarah dari mereka yang bertikai dan dapat menjadi perekat untuk berdamai kembali.
2. Berjalan sesuai dengan hirarki keluarga Kristen. Dalam hirarki ini bagian atas ditempati Allah Bapa, di bawahnya Yesus Kristus, kemudian suami atau ayah, di bawahnya isteri atau ibu, dan yang paling bawah adalah anak-anak (I KOrintus 11:3; Efesus 5:22, 23, 25, 28; 6:1; Kolose 3:18-20). Seorang suami atau ayah punya kedudukan lebih tinggi dari isteri atau ibu. Tidak boleh seorang isteri atau ibu di atas suami atau ayah. Ini menyalahi ketetapan Allah. Seorang anak posisinya tidak boleh di atas ayah atau ibunya, apalagi di atas kedua orangtuanya. Ini sangat menyalahi aturan Allah. Bila masing-masing anggota keluarga menyadari akan hal ini maka kemerdekaan akan tercipta. Seorang isteri dengan rela menundukkan dirinya kepada suaminya. Seorang anak dengan tanpa paksaan menghormati dan menuruti nasehat kedua orangtuanya.
3. Menciptakan suasana yang nyaman dan aman di rumah. Kenyamanan dan keamanan didambakan oleh setiap anggota keluarga. Suami atau ayah, isteri atau ibu, dan anak-anak mengharapkan suasana seperti ini. Keadaan ini menghilangkan kebiasaan buruk dengan berbagai dampak negatifnya sebagai dampak ketidaknyamanan mereka untuk berada di rumah. Suami atau isteri bisa saja kecantol dengan WIL atau PIL lain yang dapat memberikan rasa nyaman dan aman padanya. Anak-anak pun bisa saja terbawa dengan arus pergaulan yang buruk, akibat jarangnya mereka tinggal di rumah dan kurangnya perhatian kedua orangtuanya.
Memang, tidaklah mudah menciptakan sebuah keluarga yang merdeka. Akan tetapi, jangan pernah menyerah. Berusahalah agar impian untuk mendapatkan keluarga yang merdeka itu dapat tercapai. Di mana tiap anggota keluarga merasa merdeka dalam menjalankan tugas dan perannya masing-masing di keluarga mereka. Semoga usaha dan kerja keras ini dapat mewujudkan impian kita selama ini. (by: Tony Tedjo)