Tampilkan postingan dengan label Pengharapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengharapan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 26, 2009

MENJADI KAUM PILIHAN

Pada setiap pertandingan kontes kecantikan, seperti Miss Indonesia, para peserta yang diundang menjadi finalis dalam acara penentuan dan pengangkatan Miss Indonesia yang baru, merupakan orang-orang pilihan. Sebab, sebelum mereka bisa tampil menjadi finalis pada acara tersebut, mereka terlebih dahulu harus menyisihkan puluhan sampai ribuan peserta lainnya dari kota di mana dia berada untuk bisa mewakili kotanya. Tentunya setelah memenangkan beberapa kali perlombaan dalam babak penyisihan.
Pada masa Alkitab Perjanjian Lama, yang menjadi kaum pilihan adalah bangsa Israel. Di mana mereka menjadi umat kesayangan Allah, sampai pada masa sekarang ini. Namun sayangnya, mereka tidak mempergunakan kesempatan tersebut untuk semakin dekat dengan Allah. Justru mereka malah menjadi penghalang bagi orang-orang dari bangsa lain untuk mengenal Allah yang benar, di dalam Yesus Kristus.
Kesempatan untuk menjadi kaum pilihan Allah yang semula hanya diperuntukkan bagi bangsa Israel, namun karena mereka menolak Yesus Kristus, maka Allah memberikan kesempatan kepada semua orang untuk bisa menjadi kaum pilihan-Nya. Bagaimana cara agar menjadi umat pilihan Allah? Yaitu dengan menjadi Kristen. Dari arti katanya, kata Kristen ini mempunyai arti "kumpulan orang-orang yang sudah dipanggil keluar dari kegelapan, dan dibawa kepada terang-Nya yang ajaib, yaitu di dalam Tuhan Yesus." Perhatikan ayat berikut: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (I Petrus 2:9). Dengan demikian, kaum pilihan Allah tidak lagi ekslusif hanya bagi orang-orang Israel, tetapi terbuka bagi setiap orang yang mau meresponi panggilan Allah dengan positif.
Yohanes 15:16a menuliskan "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." Kata Yunani untuk "memilih" dalam ayat tersebut dipakai kata eklegomai, yang artinya "golongan yang terpilih oleh Allah untuk keluar memperoleh keselamatan melalui Kristus." Tidak semua orang bisa menjadi kaum pilihan Allah. Mereka yang terpilih merupakan orang-orang yang sudah diacc Allah dan dianggap layak untuk mendapatkannya. Allah memilih bukan berdasarkan pada kebaikan atau pekerjaan seseorang, melainkan atas dasar anugrah, tanpa harus mengikuti perlombaan dahulu. Yang berarti bahwa seharusnya manusia itu sendiri tidak berhak memperolehnya, namun diberikan oleh Allah secara cuma-cuma sebagai hadiah. Cara untuk mendapatkannya dengan percaya dan mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kemudian menjadikannya sebagai Tuhan dan Raja atas hidup orang tersebut. Sebutan yang pantas bagi kaum pilihan Allah adalah menjadi "anak-anak Allah" (Yohanes 1:12)
Menjadi kaum pilihan Allah tidak berarti membuat seseorang menjadi sombong dan bisa hidup semaunya sendiri. Sebab menjadi kaum pilihan Allah berarti hidup tunduk di bawah otoritas Allah. Allah-lah yang menjadi pusat penyembahan dan harus mentaati semua kehendak-Nya. Beberapa hal yang menjadi kehendak-Nya yaitu: Pertama, kita diminta untuk memberitakan kabar baik bahwa kesempatan untuk menjadi umat pilihan Allah terbuka bagi siapa saja. Asalkan orang tersebut mau membuka hatinya untuk menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Sebab panggilan untuk menjadi kaum pilihan adalah untuk mendapatkan keselamatan dari Yesus Kristus. Kedua, kita harus menjadi berkat bagi sesama. Maksudnya, bila Tuhan mempercayakan berkat jasmani lebih banyak, maka kita diminta untuk menjadi saluran berkat dalam membagikan kepada mereka yang memerlukan dan layak menerimanya. Ketiga, kita harus hidup yang menandakan bahwa kita memang adalah kaum pilihan Allah. Karena kita sudah ditarik ke luar dari kegelapan, berarti kita harus meninggalkan dosa. Tidak kompromi dan bermain-main dengan dosa. Hidup dalam terang Allah. (Oleh Pdp. Tony Tedjo, M.Th. Ketua SOW, Pendiri dan Ketua KPR, Puket III STT KHARISMA Bandung, penulis buku literature dan buku rohani. Bisa dihubungi di 0813-94401799, 08888255416 atau tony_kharis@yahoo.co.id dan penerbitagape@gmail.com. Artikel ini telah dimuat di Tabloid Rohani Keluarga edisi 53/Juli 2009)

Rabu, Desember 17, 2008

HARAPAN BARU DI TAHUN BARU


“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18)

Berbagai ramalam manusia meramalkan bahwa di tahun yang baru ini akan muncul berbagai hal yang mengerikan dan peristiwa aneh yang tidak terduga sebelumnya. Masih menurut mereka, di tahun depan akan ada malapetaka dan bencana yang tidak bisa dihentikan oleh manusia siapapun. Sebab memang sudah seharusnya terjadi demikian.
Fakta di lapangan melaporkan, bahwa kondisi dunia sekarang ini kian bertambah buruk. Harga barang-barang kebutuhan pokok naik. Bertambahnya angka kemiskinan dan pengangguran, sehingga semakin menambah catatan angka kejahatan dan tindak kriminal. Kondisi seperti ini sudah dinubuatkan dalam 2 Timotius 3:1-5. Sederetan sifat manusia akhir zaman sebagai berikut: manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang, menjadi pemfitnah, sombong, berontak terhadap orangtua, tidak mempedulikan agama, tidak memiliki kasih, tidak suka yang baik, berkhianat, dll.
Hal ini berakibat buruk terhadap sebagian besar orang, beberapa di antaranya yang tidak kuat menghadapi kenyataan mulai mengalami distress, yaitu stress yang negatif. Orang yang mengalami distress terlihat murung dan tidak ada gairah untuk hidup. Mereka tak memiliki pengharapan akan hari esok. Keadaan seperti ini bila terus didiamkan bisa menimbulkan depresi yang akan berujung pada kematian atau paling tidak menjadi gila.
Sebagai orang percaya kepada Yesus, kita tidak perlu menjadi takut dan kuatir memikirkan hari esok, sebab hari esok memiliki kesusahannya sendiri. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Orang-orang yang hanya sibuk memikirkan keadaan di masa depan dihantui oleh berbagai hal yang membuatnya menjadi kuatir. Sampai-sampai rasa kuatirnya ini melampaui imannya kepada Tuhan Yesus. Sehingga mulai meragukan setiap janji yang tertulis dalam Alkitab. Menjalani hidup dengan kekuatan dan pengertian sendiri, tanpa mengandalkan pertolongan Tuhan. Tak heran jika dihantui oleh ketakutan.
Janji firman Tuhan untuk tahun depan adalah bahwa hari depan penuh dengan pengharapan. Masa depan yang cerah, bukan madesu (masa depan suram). Memang, apa yang akan terjadi di kemudian masih merupakan misteri. Sehingga dalam menjalani hari-hari ke depan tentunya dengan antusiasme yang tinggi disertai sikap optimis. Ada beberapa hal yang harus diperbuat dalam mengisi hari-hari di tahun yang baru, yaitu:
Pertama, mulailah melangkah dengan iman disertai pimpinan Tuhan Yesus (Yeremia 17:7-8). Minta agar Tuhan menuntun setiap langkah, mulai dari langkah awal sampai kepada akhir di tahun yang baru ini. Jangan biarkan melewati hari yang baru tanpa penyertaan Tuhan. Meski harus melalui lembah bayang-bayang maut sekalipun, apabila Tuhan Yesus beserta kita, kita tidak usah takut (Mazmur 23:4).
Kedua, jalanilah setiap hari di tahun baru ini dengan hati selalu mengucap syukur (1 Tesalonika 5:18). Dalam keadaan suka maupun duka, susah atau senang tetap mengucapkan syukur. Alasan mengapa kita harus selalu bersyukur adalah bahwa kita masih diberikan nafas hidup, itu hal utama yang harus selalu diingat.
Ketiga, hindarilah hal-hal yang berbau dosa. Jangan bermain-main dengannya apabila kita sudah mengetahui bahwa hal tersebut adalah dosa. Setiap perbuatan yang dilakukan pasti di kemudian hari akan mendapatkan balasannya. Sebab apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya di kemudian hari (Galatia 6:7).
Hal terutama dalam menyongsong tahun yang baru nanti kita harus memiliki perencanaan terlebih dahulu, tentunya rencana yang sesuai dengan rencana Tuhan. Rencanakanlah kegiatan apa saja yang mesti dikerjakan dengan disertai target tertentu untuk memotivasi kita dalam mencapai apa yang telah direncanakan tadi. Tetapi satu hal yang pasti bahwa ada harapan baru di tahun yang baru. Setiap perbuatan apapun yang sudah diperbuat di tahun ini, harus diperbaharui. Hal-hal yang buruk dan tidak diperkenan Tuhan harus dibuang, dan menjalankan pekerjaan yang memuliakan nama Tuhan Yesus. (diambil dari buletin Euangelion Desember 2008-Januari 2009; karya Pdp. Tony Tedjo, M.Th. Bisa ditemui di 081394401799 atau tony_kharis@yahoo.com dan anggi_1234@plasa.com)

Minggu, April 13, 2008

3 JURUS MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN

Allah berjanji bahwa orang percaya pasti memiliki masa depan. Janji ini tertuang dalam Amsal 23:18 “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”. Ayat firman Tuhan ini memberikan suatu harapan bahwa bagi kita selaku orang percaya pasti ada masa depan. Masa depan kita tidak akan hilang. Sebab Allah merancangkan rancangan-Nya yang mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, bukannya mendatangkan kecelakaan. Rancangan damai sejahtera ini diberikan kepada orang percaya sehingga memiliki hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11).
Setelah mengetahui bahwa ada kepastian akan masa depan, maka tidak berhenti sampai di sini. Perjalanan masih panjang. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita mengisi masa depan kita sehingga bisa lebih maksimal dan efektif. Menjadi orang yang bukan biasa-biasa saja, melainkan orang yang luar biasa. Tentunya dalam mencapai hal ini kita harus bersifat aktif dan proaktif, artinya tidak bermasa bodoh atau berdiam diri menunggu “durian jatuh”. Menyikapi hal ini, paling tidak disarankan tiga hal berikut:
Pertama, memakai kemampuan (talenta, bakat dan karunia) yang sudah Tuhan berikan kepada kita secara maksimal. Sehingga hasil yang diperolehpun hasil yang maksimal. Sebagai contoh, misalnya apabila Anda adalah seorang pelajar atau mahasiswa, maka tempuhlah studimu secara maksimal. Jangan cepat merasa puas hanya memperoleh gelar sarjana. Bila ada kesempatan, kenapa tidak kita mengambilnya untuk mengembangkan studi kita. Apalagi bila keuangan dan usia mendukung (masih muda). Maka jangan ambil pusing, maksimalkanlah potensi Anda untuk mencapai tingkat pendidikan yang tinggi (mencapai doktor bila dimungkinkan). Sebab ada perbedaan bila suatu bidang ditangani oleh seorang sarjana dibandingkan dengan seorang doktor yang merupakan pakar dibidangnya. Tentunya, hal ini membawa dampak yang lebih besar ketimbang hanya menjadi sarjana. Atau contoh lainnya, bila Anda mempunyai talenta bermain musik. Maka kembangkanlah itu. Bila dimungkinkan sekolah musik. Sampai Anda menjadi seorang yang ahli menguasai alat musik tersebut. Sehingga melalui permainan musikmu banyak orang diberkati, bahkan bila memainkan musik rohani banyak orang yang dimenangkan bagi Tuhan melalui permainanmu. Pada intinya, apapun karunia, bakat atau talenta yang kita miliki, pakailah semuanya itu untuk kemuliaan nama Tuhan saja.
Kedua, membagikan berkat yang sudah Tuhan berikan kepada orang lain yang membutuhkan. Berkat yang bisa dibagikan di sini ada dua hal, yaitu berkat jasmani dan berkat rohani. Berkat jasmani yang dibagikan bisa berupa makanan, barang, maupun uang. Kita yang sudah diberkati Tuhan dengan berkat yang lebih, bisa menyalurkan kepada mereka yang berkekurangan dan memerlukan. Sebab ada begitu banyak orang miskin atau orang yang memerlukan uluran tangan kita, agar mereka bisa bertahan hidup. Dengan demikian, orang-orang yang kita bantu bisa merasakan kasih Tuhan Yesus yang dibagikan melalui bantuan kita kepadanya. Sedangkan berkat rohani yang dibagikan adalah memberitakan Kabar Baik (Injil) bagi mereka yang tersesat dan sedang mencari jalan kebenaran. Bagi orang-orang yang di luar Tuhan, mereka perlu diceritakan bahwa ada berita bahagia. Keselamatan yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah kepada manusia yang berdosa. Cara yang sangat mudah adalah dengan menjadi terang dan garam di tengah lingkungan masyarakat di mana kita berada. Biarkan orang lain melihat perbedaan tersebut. Sehingga akhirnya mereka akan bertanya-tanya dan menanyakan sendiri kepada kita mengenai rahasianya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk menceritakan siapa Yesus Kristus itu. Mengapa Yesus mati di atas kayu salib. Dan jangan terlewatkan, bahwa Yesus menjaminkan diri-Nya bahwa Dia adalah Jalan keselamatan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6).
Ketiga, membekali diri dengan Alkitab (back to Bible). Alkitab dijadikan sebagai dasar dan sandaran dalam memberikan keputusan atau bertindak. Alkitab menjadi pelita dalam menerangi jalan hidup kita yang berada di tengah kegelapan dunia (Mazmur 119:105). Menjadikan kebiasaan membaca Alkitab sebagai gaya hidup. Membaca secara seksama, merenungkan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekali firman Tuhan inilah maka kehidupan rohani kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran dunia yang pada ujungnya menuju kepada maut. Menghindarkan diri dari jerat-jerat ajaran sesat yang diajarkan oleh guru-guru palsu.
Memang, setelah menjalankan ketiga hal di atas, tidaklah membuat kita menjadi kebal terhadap godaan untuk tenggelam dalam geloranya. Akan tetapi paling tidak kita mampu bertahan dan bisa menghindari berbagai jerat-jerat maut yang ditawarkan oleh dunia dan oleh Iblis. Sehingga pada akhirnya masa depan kita benar-benar masa depan yang penuh harapan. (Tony Tedjo)

Minggu, Agustus 05, 2007

THE POWER OF HOPE

Manusia hidup harus mempunyai pengharapan. Mengharapkan sesuatu yang sudah kelihatan dan nyata bukanlah pengharapan. Demikian pula mengharapkan sesuatu yang tidak pasti bukanlah sebuah pengharapan juga. Dengan demikian, apa yang dimaksud pengharapan? Pengharapan adalah menantikan sesuatu yang tidak kelihatan namun pasti (Roma 8:24). Pengharapan itu akan terasa kekuatannya apabila dialami secara pribadi. Bukan sekadar teori atau kata orang lain. Sehingga kekuatannya yang dahsyat benar-benar terasa. Ada tiga hal sehubungan dengan kekuatan sebuah pengharapan (the power of hope):
Pertama, pengharapan membuat seseorang bertahan di kala yang lain meninggal akibat kekejaman dan aniaya yang dihadapi. Seperti yang dialami oleh seorang tawanan Nazi Jerman yang selamat dari kekejaman Hitler. Tawanan ini dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang pengap dan gelap, di mana kemungkinannya untuk bisa keluar hidup-hidup dari sana sangat kecil. Selain kondisi penjara yang bisa membuat nyali seseorang menjadi ciut, para tawanan ini pun diharuskan menjalankan kerja rodi dan kerapkali menerima hukuman yang berat dan sadis. Keadaan demikian menyebabkan para tawanan kamp konsentrasi Nazi itu satu persatu mati. Kematian mereka karena berbagai faktor, entah mati dikarenakan sakit, stress, tak mampu menahan siksaan yang kejam, atau lainnya. Dari sekian banyak para tawanan, hanya satu orang tawanan yang mampu bertahan hidup meski sudah 11 tahun mengalami penderitaan di kamp konsentrasi tersebut. Sampai akhirnya dia bebas dalam keadaan sehat. Hal yang mendukung pembebasannya disebabkan kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II melawan tentara Sekutu. Orang-orang yang menyaksikan tawanan ini menjadi bertanya-tanya, apa rahasianya dia mampu bertahan hidup. Setelah ditanyakan, ternyata jawabannya adalah karena dia memiliki pengharapan. Dia berpengharapan bahwa suatu kali nanti penderitaan ini akan berakhir dan bisa menikmati udara segar di luar sana. Pengharapannya tidaklah sia-sia. Dia dibebaskan.
Kedua, pengharapan mampu membuat orang berhasil, meski berkali-kali gagal. Tanpa memiliki pengharapan manusia akan mengalami kegagalan yang berujung pada kehancuran. Seperti halnya kejadian yang menimpa seorang atlet renang internasional. Atlet ini telah berulangkali berhasil berenang dari Samudra Pasifik ke Samudra Atlantik tanpa menggunakan alat Bantu. Karena prestasinya ini, namanya tercatat dalam Guines Book of Record. Namun pada suatu kali dia gagal menyelesaikan tugasnya berenang dari Samudra Pasifik ke Samudra Atlantik. Setelah sampai di darat, para wartawan bertanya. Mengapa dia gagal? Jawabannya karena dia tidak mempunyai pengharapan. Dia tak melihat ujung dari pada lautan tersebut, semua yang dilihatnya hanyalah lautan. Akhirnya dia putus pengharapan. Hal ini membuatnya gagal mempertahankan rekornya sebagai atlet renang yang dapat mengarungi lautan bebas tanpa alat Bantu.
Ketiga, pengharapan membuat seseorang tetap tegar meski kematian sudah mendekat. Hal ini dialami teman saya sendiri. Dia menderita penyakit kanker stadium IV, dokter memvonisnya bahwa usianya hanya tinggal tiga bulan saja. Badannya kurus dan pucat. Berkali-kali dia menjalani chemotherapy tapi penyakitnya tidak kunjung sembuh. Bersyukur akhirnya dia bisa disembuhkan Tuhan melalui seorang hamba Tuhan. Meski rambutnya sudah dua kali digunduli, tapi dia pantang menyerah. Dalam menjalani sisa hidupnya dia setia melayani sebagai singer dan aktif di kelompo sel. Dan kepada teman-temannya yang senasib, dia juga memberikan penghiburan dan kekuatan. Semangat dalam pengharapannya ditularkan kepada teman-temannya dengan harapan agar mereka juga mampu tegar menghadapi kenyataan. Puji Tuhan, usia yang semula divonis hanya tiga bulan, mampu bertahan hingga tiga tahun. Hal ini tak lain karena pengharapannya kepada Tuhan begitu kuat. Sehingga mampu melawan penyakitnya. Inilah kekuatan sebuah pengharapan.
Alkitab menuliskan bahwa pengharapan itu diibaratkan seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6:19). Tanpa sauh yang kuat, sebuah kapal tidak akan mungkin dapat berlayar dengan baik. Kapal itu akan terombang-ambing oleh gelombang lautan dan bahkan akan karam diterjang badai. Sebagai orang percaya, Yesuslah yang menjadi dasar pengharapan bagi setiap orang percaya (I Timotius 1:1). Yusuf merupakan salah satu figur orang yang sudah menikmati kekuatan sebuah pengharapan. Dia tidak menjadi goyah atau bimbang dengan keadaannya yang seolah semakin bertambah buruk secara manusia. Dia harus dibuang ke dalam sumur kering, dijual sebagai budak di negeri asing, menjadi budak Potifar, difitnah dan dimasukkan penjara. Padahal Tuhan sudah berjanji bahwa Yusuf akan menjadi orang besar dan berpengaruh. Sesuai dengan mimpi yang dimimpikannya. Meski harus melalui proses yang panjang, akhirnya pengharapannya itu terbukti dan tidak menjadi sia-sia. Dia menjadi orang nomor dua di Mesir. Semua orang sujud menyembah padanya. Mimpinya menjadi kenyataan. Inilah kekuatan sebuah pengharapan.
Kunci untuk mengalami kekuatan sebuah pengharapan adalah taat dan sabar menunggu waktunya Tuhan. Pengharapan itu sifatnya bukan sekarang, tapi yang akan datang. Oleh karena itu perlu kesabaran dalam menunggu pengharapan itu menjadi kenyataan. Dalam proses menunggu, dituntut ketaatan. Mengikuti rencana dan kehendak Tuhan. Tidak berjalan semau-maunya sendiri. Harus mengikuti jalur yang sudah ditetapkan Tuhan baginya. Dengan demikian, kuasa pengharapan itu akan terasa kekuatannya. Silakan coba rasakan dahsyatnya kekuatan sebuah pengharapan? (Tony Tedjo)