Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 30, 2009

TEROBOSAN KEUANGAN

Prinsip Kerajaan Allah sangat berbeda jauh dengan Prinsip Dunia. Dunia mengajarkan bahwa bagaimana dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya, bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Berbeda dengan Prinsip Kerajaan Allah, yang mengajarkan kepada kita untuk menaburkan sebanyak mungkin, maka kelak akan memperoleh hasil jauh lebih besar dari apa yang sudah ditaburkan. Kedua prinsip tersebut sangat mirip, yakni tujuan akhirnya sama-sama untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Perbedaannya pada motivasi awal dan kuantitas dari apa yang dipakai.
Alkitab mengajarkan kepada kita untuk lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kisah Para Rasul 20:35b). Ada beberapa alasan: Pertama, orang yang memberi berarti dia menjadi orang yang lebih “kaya” dibandingkan dengan orang yang diberi. Kedua, berkat Tuhan yang diberikan kepada kita tentunya jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang akan kita berikan. Ketiga, orang yang memberi menjadi saluran berkatnya Allah. Dia berbahagia karena lebih dahulu menikmati berkat Tuhan sebelum akhirnya diberikan lagi kepada orang lain. Keempat, setiap orang yang suka memberi pasti akan diberi lagi oleh Tuhan. Sebab Tuhan Yesus tidak pernah berhutang. Dia akan membalaskan setiap pemberian kita bagi pekerjaan Tuhan dengan berkali lipat, bahkan bisa lebih dari seratus kali lipat.
Kitab I Raja-raja 17:7-16 mencatat kisah janda di Sarfat yang mengalami terobosan keuangan. Sewaktu terjadi kelaparan di berbagai tempat, janda di Sarfat ini pun mengalami kelaparan. Dia hanya memiliki segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sesudah persediaan makanan yang serba sedikit ini mereka makan, maka janda dan anaknya itu akan mati. Namun suatu mukjizat Allah terjadi. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang, meski sudah diambil dan dipakai berkali-kali. Sehingga keduanya bisa bertahan hidup sampai beberapa waktu lamanya. Sungguh luar biasa!
Apa rahasianya? MEMBERI. Untuk mengalami terobosan dalam bidang keuangan, maka kita harus suka memberi. Janda di Sarfat tadi bisa mengalami mukjizat, karena dia terlebih dahulu memberikan apa yang dia punya kepada Elia, yang pada saat itu meminta air dan makanan darinya. Janda tersebut tahu benar bahwa bila dia memberikan persediaan makanan yang serba sedikit tersebut kepada Elia, pastilah mereka berdua akan mati karena kelaparan. Tapi mereka mau untuk memberi, meski taruhannya adalah nyawa mereka sendiri. Apa yang terjadi sesudah makanan tersebut diberikan kepada Elia? Bukannya janda dan anaknya itu mati seperti yang dibayangkan, malah mereka bisa mendapatkan makanan selama beberapa hari. Hidup mereka tertolong.
Bagaimana dengan kita? Masalah keuangan apa yang menjadi pergumulan saudara saat ini? Kunci untuk mengalami terobosan dalam keuangan adalah MEMBERI. Berikanlah terlebih dahulu bagi pekerjaan Tuhan, maka Tuhan pun akan memperhatikan pekerjaan kita. Sehingga apa yang kita perbuat selalu berhasil. Tuhan akan mengangkat kita naik dan bukannya turun. Tidak ada salahnya untuk mengikuti jejak janda di Sarfat tersebut. GBU (Pdp. Tony Tedjo, M.Th merupakan Ketua SOW dan Ketua KPR, dapat ditemui di tony_kharis@yahoo.com)

Kamis, Januari 10, 2008

HABITUS ORANG KAYA

“Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan”. (Yakobus 5:5)

Siapa yang tak mengenal Mochtar Ryadi, Ir. Ciputra, Bob Sadino, Jonathan L. Parapak, dan Soen Siregar, pastilah semua orang mengenalnya sebagai orang kaya di negeri ini. Apa penilaian kita terhadap habitus (kebiasaan) mereka? Tentulah kita menganggap mereka adalah orang yang suka memboroskan hartanya, hidup berfoya-foya, hidup dalam kemewahan. Namun semua anggapan ini keliru besar. Di bawah ini gambaran mengenai habitus mereka.
Suatu studi literatur mengenai kecenderungan perilaku orang-orang kaya di Amerika dan Asia, menyebutkan bahwa habitus kelompok sosial ekonomi atas (orang kaya) adalah sebagai berikut: Pertama, mereka menikmati hidup dengan standart jauh di bawah kemampuan mereka yang sebenarnya. Sekalipun secara keuangan mereka mampu untuk membeli barang-barang yang lebih mahal; Kedua, biaya konsumsi mereka jauh di bawah penghasilan rutin yang mereka peroleh. Jika mereka punya penghasilan rutin Rp 40 juta perbulan, maka mereka hanya menggunakannya sekitar Rp 10-15 juta perbulan untuk kebutuhan bulanan keluarganya; Ketiga, kebiasaan menyisihkan dana untuk tabungan dan investasi dulu, baru kemudian menyisakan yang lainnya untuk konsumsi rutin setiap bulannya. Bukan menggunakan penghasilannya untuk konsumsi dan sisanya baru ditabung dan diinvestasikan. Mereka terbiasa memikirkan bagaimana uang mereka bisa ditabung dan diinvestasikan agar berkembang lebih maksimal.
Sungguh ironis sekali. Sementara orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi berlagak seolah-olah orang kaya dengan membeli barang-barang mewah dan bermerk sehingga mereka dikenal orang sebagai orang kaya. Hidup mewah dan berfoya-foya, memboroskan penghasilan bulanannya untuk belanja. Sehingga tak heran banyak orang-orang dengan penghasilan pas-pasan terjebak hutang (keenakan menggesek kartu kredit), membelanjakan uang diluar kemampuan ekonominya.Namun, orang kaya yang sebenarnya tidaklah demikian. Mereka lebih sederhana, memakai barang-barang dengan harga jauh dari yang seharusnya mereka bisa beli, membelanjakan uangnya secukupnya, dan tampil apa adanya tanpa harus terkesan mewah.
Sahabat NK, biarlah kita menjalani hidup sehari-hari ini dengan sederhana, jauh dari berfoya-foya. Belajarlah dari orang-orang kaya yang sesungguhnya dengan pola hidup yang sederhana di atas. Maka di masa depan hidup kita akan menjadi lebih baik. (Tony Tedjo)

Minggu, Oktober 28, 2007

MENGELOLA KEUANGAN SECARA ALKITABIAH

Allah menghendaki umat-Nya hidup dalam kecukupan dalam memenuhi semua kebutuhannya. Allah memenuhi kebutuhan-kebutuhan bangsa Israel di saat Dia membawa mereka ke luar dari Mesir (Kel 16:13-35; 17:1-7).
Rencana Allah bagi manusia dalah keberka dan mendapat penghasilan (Kej 2:15-17; 2:17-19; Rom 8:19-22). Rencana Allah untuk mencurahkan berkat keuangan kepada umat-Nya untuk belajar memberi. Karena Allah adalah pemberi (Yoh 3:16; Ef 2:8; Rom 8:32). Allah juga menghendaki umat-Nya untuk melakukan hal yang sama (KPR 20:35).
“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal mammon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? ... seorang hamba tidak dapat mengbadi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mammon“ (Luk 16:10-14). “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada“ (Mat 6:21; Luk 12:34).

KEBENARAN ALKITAB TENTANG UANG
1. Kristus sebagai Tuhan dan uang sebagai hamba
- Berhala yang pernah dibandingkan dengan Kristus adalah mammon. Oleh sebab itu seseorang tidak dapat menjadikan Kristus sebagai Tuhan, sebelum ia menjadikan uang sebagai hambanya.
- Uang adalah hamba yang baik, namun dia adalah tuan yang jahat.
2. Cara menjadikan uang sebagai hamba
- Setia dalam perkara kecil (Luk 16:10). Setia dalam perkara kecil juga bisa berbicara tentang keuangan. Kesetiaan seseorang dapat diukur dari cara seseorang mengatur keuangan.
- Mengelola keuangan yang Tuhan percayakan untuk kemuliaan-Nya. Allah adalah owner (pemilik) semua harta benda kita, sedangkan kita hanya pengelola saja dari apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.
3. Prinsip keuangan Kerajaan Allah
Allah memberkati bisa melalui tiga cara ini, yakni:
1. Setia mengatur: Priotitas (Mat 6:33; 1 Tim 6:6-10); membayar hutang (Rom 13:6-7); dan tepat janji (Ams 28:20).
2. Setia menerima: Dalam doa (Mat 6:11) dan dalam kerajinan (2 Tim 3:10).
3. Setia menabur: kepada orang miskin (Ams 28:27); kepada pekerjaan Tuhan (gereja dan hamba Tuhan); dan kepada saudara seiman lainnya.

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA
1. Keterbukaan dan kesepakatan di antara kedua pasangan.
TERBUKA : Pemasukan dan pengeluaran (rutin /tidak)
Catat semua pemasukan suami dan isteri
SEPAKAT = DISETUJUI
Uangmu uangku, uangku uangmu
2. Mencukupi kebutuhan (sandang, pangan, papan), bukan kemauan (keinginan atau hawa nafsu). Tidak konsumerisme; memperhitungkan /merencanakan; investasi masa depan; mengucap syukur.
3. Menghindari hutang
Kartu kredit, bank, pinjaman tunai

Suatu studi literatur mengenai kecenderungan perilaku orang-orang kaya di Amerika dan Asia, menyebutkan bahwa habitus kelompok sosial ekonomi atas (orang kaya) adalah sebagai berikut: Pertama, mereka menikmati hidup dengan standart jauh di bawah kemampuan mereka yang sebenarnya. Sekalipun secara keuangan mereka mampu untuk membeli barang-barang yang lebih mahal; Kedua, biaya konsumsi mereka jauh di bawah penghasilan rutin yang mereka peroleh. Jika mereka punya penghasilan rutin Rp 40 juta perbulan, maka mereka hanya menggunakannya sekitar Rp 10-15 juta perbulan untuk kebutuhan bulanan keluarganya; Ketiga, kebiasaan menyisihkan dana untuk tabungan dan investasi dulu, baru kemudian menyisakan yang lainnya untuk konsumsi rutin setiap bulannya. Bukan menggunakan penghasilannya untuk konsumsi dan sisanya baru ditabung dan diinvestasikan. Mereka terbiasa memikirkan bagaimana uang mereka bisa ditabung dan diinvestasikan agar berkembang lebih maksimal.
(Tony Tedjo, M.Th)

FINANCIAL FREEDOM

Orang terkadang salah mengerti tentang arti kebebasan finansial. Kebebasan finansial adalah keadaan di mana seseorang memiliki persiapan dalam hal finansial untuk masa depannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai persiapan untuk mewujudkan kebebasan finansial, yaitu:
Pertama, membiasakan diri untuk hidup sederhana. Orang yang kaya tidak selalu harus royal dan hidup berfoya-foya. Hidup sederhana berarti hidup jauh dari konsumerisme. Membelanjakan barang-barang hanya yang diperlukan saja. Segala pengeluaran untuk membeli barang-barang atau melakukan kegiatan yang tidak perlu, bisa dikurangi atau dihilangkan. Sifat sederhana ini telah dicontohkan oleh beberapa konglomerat di Indonesia.
Kedua, menyisihkan sebagian dari penghasilan kita untuk tabungan. Uang yang dikumpulkan ini bisa dipakai untuk hal-hal yang sifatnya tak terduga, misalnya sakit, ada pernikahan, atau kejadian yang sifatnya tiba-tiba. Bila dalam satu bulan tabungan kita tidak dipakai untuk hal yang sifatnya mendesak tersebut, maka bisa dibiarkan saja sampai terkumpul banyak. Seandainya sudah terkumpul banyak, dapat dipakai untuk membiayai anak sekolah, membeli rumah atau kendaraan (bila belum punya), menunjang kebutuhan di hari tua, dan sebagainya.
Ketiga, memberikan persembahan secara rutin. Persembahan ini sebagai ucapan syukur kita atas berkat-berkat yang sudah Tuhan Yesus berikan atas hidup kita. Bentuknya berupa persembahan persepuluhan, persembahan kasih, persembahan bagi hamba Tuhan, persembahan bagi saudara seiman yang berkekurangan, misi, pembangunan gereja, mendukung Sekolah Teologi, dan lainnya. Bila kita memiliki hati yang memberi, maka Tuhan pun pasti akan memberkati. Sehingga kita bisa menikmati masa depan kita dengan sukacita.
Satu hal yang harus kita ingat, kebebasan finansial tidak datang dengan sendirinya atau tiba-tiba. Kita harus mempersiapkannya. Kita harus bekerja dan berdoa dalam mengupayakannya. Selamat menikmati kebebasan finansial di masa depan.
(Tony Tedjo, M.Th)

Perpuluhan: Wujud Ibadah Orang Percaya

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih… yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”
(Matius 23:23).

Salah satu wujud ibadah orang percaya adalah membayar perpuluhan secara rutin ke gereja. Perpuluhan tidak dibayarkan berdasarkan kerelaan seseorang, artinya bila orang tersebut tidak rela, maka dia tidak usah membayarnya.. Melainkan merupakan persembahan yang wajib dibayarkan oleh orang percaya. Tuhan hanya menghendaki 10% dari seluruh berkat yang sudah Dia berikan bagi kita. Bila yang 10% saja kita tidak mau memberikan bagi Tuhan, apalagi bila Tuhan meminta yang lainnya? Hal yang dituntut dari kita adalah kesetiaan dan ketaatan dalam membayarkannya. Tanpa perlu berbantah-bantah atau beralasan. Bagaimana jadinya apabila Allah tidak menghendaki yang 10% melainkan Dia menginginkan yang 90%?
Alkitab mengajarkan kepada kita untuk setia dalam perkara kecil, termasuk dalam hal membayar perpuluhan. Bila dalam hal ini kita sudah setia, maka tidak ada yang mustahil nanti kita akan diberi tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar (Matius 25:21; Lukas 19:17). Dipercaya Tuhan untuk mengelola berkat Allah yang lebih besar.
Memberikan perpuluhan merupakan salah satu rahasia agar kita diberkati Tuhan. Dia berjanji bahwa bila kita setia membayarkan perpuluhan, maka Dia akan membukakan tingkap-tingkap sorga untuk mencurahkan berkat-berkat-Nya bagi anak-anak-Nya yang setia membayarkan perpuluhan (Maleakhi 3:10). Seharusnya kita bersyukur, bukannya mengomel, bila persembahan perpuluhan kita semakin hari semakin bertambah, berarti berkat Tuhan atas hidup kita semakin bertambah pula. Berarti kita semakin dipercaya untuk mengelola berkat Tuhan.
Bila kita sudah membayar rutin perpuluhan kita, hal ini tidak berarti kita sudah memberi bagi Tuhan. Ini baru kewajibannya saja. Kita bisa memberi persembahan yang lain, seperti persembahan syukur, persembahan kolekte, persembahan pembangunan, persembahan misi, persembahan bagi hamba Tuhan, dll. Jenis persembahan yang disebutkan terakhir ini sifatnya sukarela, namun demikian kita juga seharusnya memberikan. Tuhan menghendaki kita memuliakan Dia dengan harta kita (Amsal 3:9). “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya” (Amsal 11:24).

Selamat mempraktekkan firman Tuhan!
(Tony Tedjo, M.Th)