
“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17)
Mengapa orang hari-hari ini menjadi kuatir? Karena sebagian besar di antara mereka berfokus pada masalah makan dan minum. Matius 6:25 mengatakan “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukanlah hidup itu lebih penting daripada pakaian?“ Kita tidak perlu mengkuatirkan akan persoalan makan dan minum, sebab Bapa di sorga pasti memelihara hidup kita. Memang, harga kebutuhan sehari-hari semakin melambung tinggi. Tetapi janji firman Tuhan bahwa berkat Bapa juga akan dicurahkan dengan berlimpah, sesuai kebutuhan kita.
Sebagai orang percaya, seharusnya fokus yang paling utama dalam hidup ini adalah Kerajaan Allah. Apa itu Kerajaan Allah? Kerajaan Allah berbicara masalah kekekalan, berkaitan dengan kuasa Allah, dan berhubungan dengan kehendak Allah. Fokusnya adalah pada diri Allah sendiri. Allahlah yang menjadi segala-galanya dalam hidup kita. Uang, makanan dan minuman, pakaian, dan lainnya itu menjadi nomor ketiga dan seterusnya. Nomor satu adalah Allah. Kedua adalah hidup kita.
Kehendak Allah atas diri kita adalah untuk hidup dalam penyangkalan diri dan memikul salibnya setiap hari (Matius 16:24; Markus 8:34; Lukas 9:23). Hal ini sangat bertentangan dengan kehendak manusia pada umumnya, yang lebih menyukai pada kenikmatan dan hidup menurut kehendak dirinya sendiri. Bertuhankan pada perut dan mulut. Orientasi hidupnya mengarah pada dirinya sendiri dan bukan kepada Allah. Terhadap orang-orang yang seperti ini, Alkitab menuliskan bahwa mereka adalah orang-orang yang malang. “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia“ (1 Korintus 15:19). Sebab setelah kematian ada kehidupan yang kekal yang harus kita jalani. Tentunya semua orang mengharapkan untuk masuk dalam Kerajaan Sorga, tempat di mana Allah tinggal dan bertahta.
Sepertinya hidup dalam Injil Kerajaan menyakitkan bagi tubuh, namun pada akhirnya akan membawa kepada kebahagiaan. Sebaliknya, hidup dalam injil kenikmatan, sepertinya menyukakan tubuh, namun berakhir pada kesedihan dan kemalangan.
Milikilah hati seorang hamba yang mentaati tuannya. Allah adalah Raja dari Kerajaan Allah, tempat yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Arahkan pandangan kita pada kekekalan dan jangan mundur, meski harus melewati tantangan, rintangan, aniaya, dan dukacita dalam menjalani kehidupan menurut kehendak Allah. (Tony Tedjo)
Mengapa orang hari-hari ini menjadi kuatir? Karena sebagian besar di antara mereka berfokus pada masalah makan dan minum. Matius 6:25 mengatakan “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukanlah hidup itu lebih penting daripada pakaian?“ Kita tidak perlu mengkuatirkan akan persoalan makan dan minum, sebab Bapa di sorga pasti memelihara hidup kita. Memang, harga kebutuhan sehari-hari semakin melambung tinggi. Tetapi janji firman Tuhan bahwa berkat Bapa juga akan dicurahkan dengan berlimpah, sesuai kebutuhan kita.
Sebagai orang percaya, seharusnya fokus yang paling utama dalam hidup ini adalah Kerajaan Allah. Apa itu Kerajaan Allah? Kerajaan Allah berbicara masalah kekekalan, berkaitan dengan kuasa Allah, dan berhubungan dengan kehendak Allah. Fokusnya adalah pada diri Allah sendiri. Allahlah yang menjadi segala-galanya dalam hidup kita. Uang, makanan dan minuman, pakaian, dan lainnya itu menjadi nomor ketiga dan seterusnya. Nomor satu adalah Allah. Kedua adalah hidup kita.
Kehendak Allah atas diri kita adalah untuk hidup dalam penyangkalan diri dan memikul salibnya setiap hari (Matius 16:24; Markus 8:34; Lukas 9:23). Hal ini sangat bertentangan dengan kehendak manusia pada umumnya, yang lebih menyukai pada kenikmatan dan hidup menurut kehendak dirinya sendiri. Bertuhankan pada perut dan mulut. Orientasi hidupnya mengarah pada dirinya sendiri dan bukan kepada Allah. Terhadap orang-orang yang seperti ini, Alkitab menuliskan bahwa mereka adalah orang-orang yang malang. “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia“ (1 Korintus 15:19). Sebab setelah kematian ada kehidupan yang kekal yang harus kita jalani. Tentunya semua orang mengharapkan untuk masuk dalam Kerajaan Sorga, tempat di mana Allah tinggal dan bertahta.
Sepertinya hidup dalam Injil Kerajaan menyakitkan bagi tubuh, namun pada akhirnya akan membawa kepada kebahagiaan. Sebaliknya, hidup dalam injil kenikmatan, sepertinya menyukakan tubuh, namun berakhir pada kesedihan dan kemalangan.
Milikilah hati seorang hamba yang mentaati tuannya. Allah adalah Raja dari Kerajaan Allah, tempat yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Arahkan pandangan kita pada kekekalan dan jangan mundur, meski harus melewati tantangan, rintangan, aniaya, dan dukacita dalam menjalani kehidupan menurut kehendak Allah. (Tony Tedjo)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar